Interaksi Komponen Abiotik dan Biotik pada Ekosistem Kebun Sekolah

LAPORAN PRAKTIKUM

“Interaksi Komponen Abiotik dan Biotik pada Ekosistem Kebun Sekolah”

I.     TUJUAN KEGIATAN

  • Menentukan suhu udara dan suhu tanah di kebun sekolah.
  • Menentukan derajat keasaman tanah.
  • Menentukan kandungan air di dalam tanah atau daya serap tanah terhadap air.
  • Mengidentifikasi tumbuhan dan hewan yang hidup pada ekosistem kebun sekolah.

II.   ALAT DAN BAHAN

a.Menentukan suhu udara dan suhu tanah dikebun sekolah serta menentukan derajat     keasaman tanah

v  Gelas ukur                                     : 1 buah

v  Sedok plastik                                : 1 buah

v  Termometer                                   : 1 buah

v  Cawan petri                                   : 2 buah

v  PH-meter                                       : 2 buah

v  Aquadest atau air netral                : 1 gelas

v  Tanah dari kebun sekolah             : 100 gram

v  Tanah humus                                : 100 gram

b. Menentukan kandungan air di dalam tanah atau daya serap tanah terhadap air

v  Gelas ukur                                     : 1 buah

v  Corong plastik                               : 1 buah

v  Kantung plastik                             : 3 buah

v  Kertas saring                                 : 3 lembar ( 15 cm x 15 cm )

v  Timbangan                                    : 1 buah

v  Tabung erlemeyer                          : 1 buah

v  Air bersih                                      : 300 ml

v  Tanah kebun sekolah                     : 100 gram

v  Pasir                                              : 100 gram

v  Tanah humus                                 : 100 gram

c. Mengidentifikasi tumbuhan dan hewan yang hidup pada ekosistem kebun sekolah

v  Buku

v  Pena

III.        LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN

a. Menentukan suhu udara dan suhu tanah dikebun sekolah serta menentukan derajat     keasaman tanah

Kegiatan:

  • Ukurlah suhu udara dan suhu tanah didalam ekosistem kebun sekolah dengan menggunakan termometer.
  • Ambillah contoh tanah dari kebun sekolah kira-kira 1 sendok makan dan masukkan ke dalam cawan petri kemudian hancurkan dan tambahkan aquadest (air netral) serta aduklah hingga rata.
  • Ambillah tanah humus kira-kira 1 sendok makan dan hancurkan kemudian masukkan ke dalam cawan petri kemudian hancurkan dan tambahkan air aquadest (air netral) serta aduklah hingga rata.
  • Tunggulah hingga air kembali menjadi jernih dan ukurlah berapa PH atau derajat keasaman air tanah tersebut.
  • Tulislah berapa besarnya PH atau derajat keasaman kedua contoh tanah tersebut ke dalam tabel.

b. Menentukan kandungan air di dalam tanah atau daya serap tanah terhadap air

Kegiatan 1:

  • Ambillah tanah basah dari kebun sekolah sebanyak 100 gram kemudian jemurlah diatas kertas koran hingga kering
  • Ambillah pasir basah sebanyak 100 gram kemudian jemurlah diatas kertas koran hingga kering
  • Ambillah tanah humus sebanyak 100 gram kemudian jemurlah diatas kertas koran hingga kering
  • Timbanglah kembali tanah dan pasir yang sudah kering
  • Hitunglah daya serap tanah terhadap air dengan rumus sebagai berikut:

Daya serap tanah =   x 100%

Kegiatan 2:

  • Sediakan tabung erlmeyer yang kering
  • Sediakan corong plastik dan lapisilah menggunakan kertas penyaring dan letakkan diatas tabung erlemeyer.
  • Tuangkan tanah yang sudah dikeringkan pada cara pertama di atas corong plastik yang telah dilapisi dengan kertas penyaring kemudian tuangkan air sebanyak 100 ml secara perlahan-lahan, tunggulah hingga tidak ada lagi air yang menetes kedalam tabung erlemeyer.
  • Ukurlah jumlah air yang menetes ke dalam masing-masing tabung erlemeyer.
  • Hitunglah daya serap tanah terhadap air dengan rumus sebagai barikut:

Daya serap tanah =

c. Mengidentifikasi tumbuhan dan hewan yang hidup pada ekosistem kebun sekolah

Kegiatan 1:

  • Amati jenis-jenis hewan yang dapat ditemukan dikebun sekolah.
  • Amati alat gerak, jenis makanannya dan cara reproduksinya.
  • Masukkan data hasil pengamatan ke dalam tabel.

Kegiatan 2:

  • Amati jenis-jenis tumbuhan yang hidup dikebun sekolah.
  • Amati cara hidupnya dan cara berkembang biaknya.
  • Masukkan data hasil pengamatan ke dalam tabel.

VI.      HASIL PENGAMATAN

a. Hasil pengamatan suhu udara dan suhu tanah dikebun sekolah

v  Suhu udara kebun sekolah 30o c

v  Suhu tanah kebun sekolah 27o c

b. Hasil pengamatan besarnya PH atau derajat keasaman tanah kebun sekolah dan tanah humus

 

No

Jenis tanah

PH

Asam atau basa

Subur atau tidak subur

1.

Tanah kebun sekolah

6

Asam

Tidak subur

2.

Tanah humus

8

Basa

Subur

c. Hasil pengamatan daya serap tanah terhadap air sebagai berikut:

Tanah kebun sekolah

Diketahui:

  • Tanah basah 100 gram
  • Tanah yang sudah dikeringkan 60 gram
  • Air yang dituangkan 100 ml
  • Air yang menetes 51 ml

Ditanya: Daya serap tanah terhadap air?

Jawab:

Daya serap tanah =

=

=

= 49%

Pasir

Diketahui :

  • Ø Berat awal pasir 100 gram
  • Ø Berat akhir pasir 110 gram
  • Ø Air yang dituangkan 100 ml
  • Ø Air yang menetes 64 ml

Ditanya: Daya serap pasir terhadap air?

Jawab :

Daya serap tanah =

=

=

= 36%

Tanah humus

Diketahui :

  • Berat awal tanah humus 100 gram
  • Berat akhir tanah humus 115 gram
  • Air yang dituangkan 100 ml
  • Air yang menetes 47 ml

Ditanya: Daya serap tanah humus terhadap air?

Jawab :

Daya serap tanah =

=

=

= 53%

 

 

 

 

 

 

  1. Hasil pengamatan jenis-jenis hewan yang hidup dikebun sekolah

No

Nama hewan

Tempat hidupnya

Alat geraknya

Jenis makanannya

Cara reproduksinya

1.

Semut Tanah Kaki Herbivora Ovipar

2.

Belalang Udara Sayap Herbivora Ovipar

3.

Nyamuk Udara Sayap Darah Ovipar

4.

Cacing tanah Tanah Tubuh Sisa bahan organik Hemafprodit

5.

Lalat Udara Sayap Omnivora Ovipar
  • Hewan yang tergolong herbivora pada kebun sekolah yaitu semut dan belalang.
  • Hewan yang tergolong omnivora pada kebun sekolah yaitu lalat.
  • Hewan yang berperan sebagai decomposer atau pengurai yaitu cacing tanah.
  1. Hasil pengamatan jenis-jenis tumbuhan yang hidup dikebun sekolah

    No

    Nama Tumbuhan

    Cara berkembang biaknya

    Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh hewan dan manusia

    Jumlah Tumbuhan

    Akar

    Umbi

    Biji

    Batang

    Tunas

    1

    Singkong ü Umbi 1 rumpun

    2

    Nanas ü Buah 1 rumpun

    3

    Rumput ü - 25

V.   PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ekosistem

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.

B.     Satuan Makhluk Hidup dalam Ekosistem

a. Individu

Individu adalah satu makhluk hidup, misalnya seekor semut, seekor burung dan  sebuah pohon.
b. Populasi

Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang dapat berkembangbiak serta berada pada tempat yang sama dan dalam kurun waktu yang sama. Contoh populasi adalah sekelompok semut di atas meja.

c. Komunitas

Komunitas adalah kumpulan beberapa macam populasi yang menempati daerah yang sama pada waktu yang sama, contohnya komunitas hutan jati, padang rumput dan hutan pinus.

d.  Bioma

Bioma adalah suatu ekosistem darat yang khas dan luas cakupannya. Contoh :

  1. Bioma Gurun
  1. Bioma Hutan Hujan Tropis
  2. Bioma Tundra

e.Biosfer

Biosfer adalah berbagai bioma di permukaan bumi yang saling berhubungan dan membentuk sistem yang lebih besar lagi.

Berdasarkan proses terbentuknya, ekosistem dibedakan menjadi ekosistem buatan dan ekosistem alami. Ekosistem alami adalah ekosistem yang terbentuk secara alamiah, tanpa campur tangan manusia. Contohnya rawa, sungai dan laut. Jika suatu ekosistem sengaja dibuat manusia maka disebut ekosistem buatan. Contohnya ekosistem sawah, kebun, kolam, waduk dan akuarium.

C. Komponen-komponen pembentuk ekosistem

1. Abiotik

Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu:

a.Suhu.

Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.

b. Air.

Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.

c. Garam.

Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.

fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.

e. Tanah dan batu.

Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.

f. Iklim.

Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.

2. Biotik

Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme). Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Heterotrof / Konsumen

Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.

  1. Pengurai / dekomposer

Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu:

  1. aerobik : oksigen adalah penerima elektron / oksidan
  2. anaerobik : oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima elektron /oksidan
  3. fermentasi : anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga sebagai penerima elektron. komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur[4]. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan sebagai komponen heterotrof, tumbuhan air sebagai komponen autotrof, plankton yang terapung di air sebagai komponen pengurai, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air

C.    Ketergantungan

Saling kebergantungan tidak hanya terjadi antar komponen biotik. Saling kebergantungan juga terjadi antara komponen biotik dan abiotiknya.

  1. Rantai makanan
    Perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan dengan   urutan tertentu disebut rantai makanan

 

  1. D.    Pelestarian Ekosistem

Keanekaragaman makhluk hidup perlu dijaga supaya ekosistem menjadi stabil. Semakin beranekaragam makhluk hidup dalam suatu ekosistem, semakin stabil ekosistem tersebut. Flora dan fauna alami yang terdapat di hutan perlu dilestarikan karena merupakan sumber plasma nutfah (plasma benih). Sumber plasma nutfah dapat dimanfaatkan untuk mencari bibit unggul bagi kepentingan kesejahteraan manusia. Upaya perlindungan keanekaragaman hayati dapat dilakukan dengan mendirikan cagar alam, taman nasional, hutan wisata, taman laut, hutan lindug dan kebun raya. Untuk mencegah kepunahan makhluk hidup, kadang diperlukan pemeliharaan untuk mengembangbiakannya, yang disebut dengan penangkaran. Pemeliharaan dapat dilakukan secara in situ dan ex situ. Pemeliharaan in situ adalah pemeliharaan yang dilakukan di habitat aslinya. Pemeliharaan ex situ adalah pemeliharaan yang dilakukan di luar habitat aslinya, misalnya di kebun binatang.

VI.   KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa tanah yang berada di kebun sekolah merupakan jenis tanah yang kurang baik untuk ditanami tumbuhan karena tanah yang terdapat pada kebun sekolah tersebut mempunyai PH 6 yang berarti bahwa  tanah tersebut berPH asam dan merupakan golongan tanah yang tidak subur dan dapat juga diilihat dari warna tanah yaitu berwarna kuning dan tekstur tanah juga gersang. Diketahui  bahwa jenis tanah yang baik adalah tanah humus dengan PH 8 karena banyak mengandung unsur hara dengan warna tanah yang hitam dan jenis tanah humus merupakan tanah yang subur untuk ditanami tumbuhan.

Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa semakin padat partikel tanah maka semakin banyak air yang dapat diserap oleh tanah tersebut. Tanah humus merupakan jenis tanah yang baik karena tanah humus dapat menyerap air lebih banyak dibandingkan dengan tanah kebun sekolah dan pasir berdasarkan hasil penelitian yang telah kami lakukan. Tanah humus baik untuk ditanami tumbuhan karena partikel tanahnya  yang padat. Hal ini bukan berarti jenis tanah yang lainnya tidak baik untuk tanaman akan tetapi hanya kurang baik saja. Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan juga dapat disimpulkan bahwa “semakin padat partikel tanah maka semakin banyak air yang dapat diserap oleh tanah tersebut, sebaliknya agak renggang partikel tanahnya maka semakin sedikit air yang diserap oleh tanah tersebut. Dapat disimpulkan juga bahwa jenis tanah juga mempengaruhi daya serap air tanah tersebut.

Dari hasil pengamatan hewan yang hidup di kebun sekolah yaitu semut, belalang, nyamuk, cacing tanah, dan lalat. Serta tumbuhan yang hidup di kebun  sekolah yaitu singkong, nanas, dan rumput.

VII.   RUJUKAN

http://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem

http://www.kathy-lilia.blogspot.com/2007_06_01_archive.jpg

 

3 thoughts on “Interaksi Komponen Abiotik dan Biotik pada Ekosistem Kebun Sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s